Tulis yang Anda cari

Memuat...

Senin, 09 Agustus 2010

Pantai Balangan


Wilayah pesisir di sepanjang jalur Pecatu – Uluwatu merupakan kawasan pantai berpasir putih yang tersembunyi terhalang oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi yang menjadi ciri khas eksotisme pantai di wilayah ini. Ombak yang besar merupakan surga bagi penghobi selancar dan pantai-pantai ini selalu dikunjungi oleh peselancar dari seluruh penjuru dunia. Deretan pantai bertebing ini dimulai dari Pantai Balangan, diteruskan dengan Pantai Dreamland, Pantai Labuan Sait (Padang-padang), Pantai Suluban, hingga Pantai Uluwatu yang paling ujung.

Pantai Balangan dapat ditempuh melalui perjalanan melewati kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) pada simpang empat belok ke kanan dan selanjutnya kita akan menyusuri jalan berkelok-kelok agak naik turun dan lumayan jauh. Sesampainya di pantai, kita akan melihat beberapa penginapan semi permanen yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Selanjutnya kita akan menuruni beberapa anak tangga, yang dari anak tangga ini kita sudah dapat melihat view Pantai Balangan dari atas, yang akan terlihat deretan pohon kelapa yang tertata rapi mengawali pemandangan Pantai Balangan dengan langit berwarna kemerahan dalam balutan indahnya sunset di senja hari.

Hanya terdapat beberapa gelintir wisatawan yang terlihat di sini, mungkin karena lokasinya yang agak jauh dijangkau. Begitu juga warung-warungnya hanya beberapa buah saja. Pantainya berpasir putih dengan butiran kasar, dan di pesisir bibir pantai terdapat cukup banyak batu-batu kecil, jadi kalau jalan mesti hati-hati. Ombak yang besar tampaknya membuat sedikit orang untuk berani mandi di sini, dan tampaknya lebih banyak wisatawan yang bermain surfing di tengah laut. Pengunjung lebih banyak hanya menikmati pantai dengan berfoto-foto atau membuat rekaman video. Pantai Balangan adalah salah satu view point untuk menyaksikan eksotisme matahari terbenam, dari sudut capture yang berbeda.

Sabtu, 31 Juli 2010

Pantai Padang Padang



Pantai Padang-padang yang unik, menarik perhatian wisatawan mancanegara dan domestik. Pantai ini makin tersohor lewat film 'Eat, Pray, Love' yang dibintangi aktris Hollywood, Julia Roberts.

Pantai Padang-padang berada di antara celah tebing yang curam. Panjang pantainya sekitar 100 meter. Ombaknya sangat tenang serta pasir putih yang lembut dikelilingi oleh tebing yang sangat eksotik.

Butuh waktu sekitar 50 menit dari Kuta ke Pantai Padang-padang. Dari Pura Uluwatu, Jimbaran sudah ada area parkir luas dan rapi. Pantai dicapai dari bagian terluar area pura kemudian menyusuri celah tebing yang hanya bisa dilewati satu orang.

Di pantai ini, wisatawan mancanegara lebih banyak menghabiskan aktivitas
berjemur menikmati matahari sambil membaca buku, menikmati pijatan dari ibu-ibu desa setempat serta membuat tato temporer yang biayanya sangat murah. Namun masih jarang wisatawan domestik menikmati kenyamanan pantai ini.





Jika cahaya matahari masih terik, wisatawan dapat berlindung di balik dinding tebing yang berwarna putih kecoklatan. Kini pantai Padang-Padang mulai ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan domestik. Puluhan wisatawan mulai memadati pantainya yang tidak terlalu luas.

Keindahan pantai ini pernah dirasakan aktris Julia Roberts. Saat itu, pantai
Padang-Padang ditutup untuk proses syuting film 'Eat, Pray, Love' selama
sepekan. Julia Robert memainkan adegan menikmati minuman di kafe serta berenang memadu kasih dengan lawan mainnya.

Sejak proses syuting tersebut, pantai yang lebih banyak dikunjungi oleh
wisatawan mancanegara ini pun menjadi lebih terkenal. Kini, saatnya menghabiskan waktu liburan perayaan tahun baru di pantai Padang-Padang.

Rabu, 14 Juli 2010

Pasar Seni Sukawati





Mau tau tempat belanja oleh-oleh selama liburan di Bali? Mungkin anda juga sudah pernah ke sana. Apalagi kalau bukan Pasar Seni Sukawati.

Dengan menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dari Kuta, anda akan sampai di pasar seni ini yang menawarkan berbagai barang seni dengan harga jauh lebih murah dibandingkan tempat lain. Mungkin bisa dibilang sebagai "malioboro"nya Bali.

Barang kerajinan yang beraroma Bali banyak dijual di sini. Mulai baju kaos bermotif Bali, sprei, bingkai photo, dompet dan barang kebutuhan sehari-hari lainnya banyak dijual di sini. Menariknya, bagi yang hobby menawar, keahlian anda bisa diterapkan.
Pasar seni sukawati terletak di kabupaten gianyar kecamatan sukawati...tidak sulit untuk mencari pasar seni ini karena semua orang pasti tau....OK selamat berbelanja oleh-oleh khas Bali...!!!



pasar seni, tempat belanja oleh-oleh khas bali, khas bali, tempat belanja murah, pasar sukawati

Senin, 12 Juli 2010

Hotel murah Di Bali


Bali adalah salah satu tujuan wisata favorit dunia. Bali yang terkenal dengan sebutan pulau seribu Pura, telah menjadi destinasi utama bagi calon wisatawan yang akan melakukan liburan. Sebagai salah satu tempat wisata favorit maka Bali telah melengkapi diri dengan berbagai sarana dan prasarana wisata yang dapat membantu para wisatawan dalam memenuhi segala keperluan mereka selama liburan di Bali. Salah satu keperluan yang paling vital bagi para wisatawan adalah kebutuhan akan sarana akomodasi yang nyaman dan memadai.

Sarana akomodasi di Bali telah ada sejak jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Saat itu bentuk akomodasi di Bali masih bersifat sederhana dan diperuntukan untuk keluarga para bangsawan Belanda atau Jepang, serta para seniman maupun wartawan. Setelah Indonesia merdeka, hotel - hotel di Bali telah mengalami perkembangan yang cukup pesat seiring dengan naiknya tingkat kunjungan wisatawan ke Bali. Semua sarana akomodasi di Bali dibenahi dan digolongkan kedalam tingkatan -tingkatan sesuai dengan fasilitas dan pelayanan yang dimiliki oleh masing - masing hotel. Dimulailah pengkatagorian kelas hotel menjadi beberapa jenis seperti : Losmen, Penginapan, Bungalow, Cottage, Resort, Villa, dan Hotel yang masih bisa di bagi lagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu : hotel melati, hotel bintang satu, hotel bintang dua, hotel bintang tiga sampai dengan hotel bintang lima, bahkan sekarang ini ada beberapa hotel dengan predikat hotel bintang lima plus atau five stars diamond hotel.

Untuk memenuhi kebutuhan wisatawan akan sarana akomodasi seperti yang diungkapkan diatas, maka HotelMurahBali.com hadir dan selalu siap membantu anda. Kami menyediakan segala informasi mengenai akomodasi di Bali, hotel murah di Bali, losmen, penginapan, resort, bungalow, cottage dan villa yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan budget liburan anda.

So, pastikan anda memesan hotel bersama kami, karena segala kebutuhan akomodasi anda pasti kami penuhi.


hotel murah di kuta, hotel murah di sanur, hotel murah di legian, hotel murah di ubug

Senin, 31 Mei 2010

Pulau Lombok


Ok sekarang dari bali kita beranjak ke lombok...karena lombok tidak begitu jauh dari bali dan masih ada kesamaan adat istiadat dua daerah tersebut.

Pulau Lombok (jumlah penduduk pada tahun 2001: 2.722.123 jiwa)[1] adalah sebuah pulau di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelat barat dan Selat Alas di sebelah timur dari Sumbawa. Pulau ini kurang lebih berbentuk bulat dengan semacam "ekor" di sisi barat daya yang panjangnya kurang lebih 70 km. Luas pulau ini mencapai 5.435 km², menempatkannya pada peringkat 108 dari daftar pulau berdasarkan luasnya di dunia. Kota utama di pulau ini adalah Kota Mataram.


GEOGRAFI

Selat Lombok menandai batas flora dan fauna Asia. Mulai dari pulau Lombok ke arah timur, flora dan fauna lebih menunjukkan kemiripan dengan flora dan fauna yang dijumpai di Australia daripada Asia. Ilmuwan yang pertama kali menyatakan hal ini adalah Alfred Russel Wallace, seorang Inggris di abad ke-19. Untuk menghormatinya maka batas ini disebut Garis Wallace.

Topografi pulau ini didominasi oleh gunung berapi Rinjani yang ketinggiannya mencapai 3.726 meter di atas permukaan laut dan menjadikannya yang ketiga tertinggi di Indonesia. Gunung ini terakhir meletus pada bulan Juni-Juli 1994. Pada tahun 1997 kawasan gunung dan danau Segara Anak ditengahnya dinyatakan dilindungi oleh pemerintah. Daerah selatan pulau ini sebagian besar terdiri atas tanah subur yang dimanfaatkan untuk pertanian, komoditas yang biasanya ditanam di daerah ini antara lain jagung, padi, kopi, tembakau dan kapas.

DEMOGRAFI

Peta bahasa di pulau Lombok

Sekitar 80% penduduk pulau ini adalah suku Sasak, sebuah suku bangsa yang masih dekat dengan suku bangsa Bali, tetapi sebagian besar memeluk agama Islam. Sisa penduduk adalah orang Bali, Jawa, Tionghoa dan Arab.

BAHASA

Disamping bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, penduduk pulau Lombok (terutama suku Sasak), menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa utama dalam percakapan sehari-hari. Di seluruh Lombok sendiri bahasa Sasak dapat dijumpai dalam empat macam dialek yang berbeda yakni dialek Lombok utara , tengah, timur laut dan tenggara. Selain itu dengan banyaknya penduduk suku Bali yang berdiam di Lombok (sebagian besar berasal dari eks Kerajaan Karangasem), di beberapa tempat terutama di Lombok Barat dan Kotamadya Mataram dapat dijumpai perkampungan yang menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa percakapan sehari-hari.


AGAMA

Sebagian besar penduduk pulau Lombok terutama suku Sasak menganut agama Islam. Agama kedua terbesar yang dianut di pulau ini adalah agama Hindu, yang dipeluk oleh para penduduk keturunan Bali yang berjumlah sekitar 15% dari seluruh populasi di sana. Penganut Kristen, Buddha dan agama lainnya juga dapat dijumpai, dan terutama dipeluk oleh para pendatang dari berbagai suku dan etnis yang bermukim di pulau ini.

Di Lombok Barat bagian utara, tepatnya di daerah Bayan, terutama di kalangan mereka yang berusia lanjut, masih dapat dijumpai para penganut aliran Islam Wetu Telu (waktu tiga). Tidak seperti umumnya penganut ajaran Islam yang melakukan shalat lima kali dalam sehari, para penganut ajaran ini mempraktikan shalat wajib hanya pada tiga waktu saja. Konon hal ini terjadi karena penyebar Islam saat itu mengajarkan Islam secara bertahap dan karena suatu hal tidak sempat menyempurnakan dakwahnya.

SEJARAH

Bentuk lumbung padi khas pulau lombok

Menurut isi Babad Lombok, kerajaan tertua yang pernah berkuasa di pulau ini bernama Kerajaan Laeq (dalam bahasa sasak laeq berarti waktu lampau), namun sumber lain yakni Babad Suwung, menyatakan bahwa kerajaan tertua yang ada di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang dibangun dan dipimpin oleh Raja Betara Indera. Kerajaan Suwung kemudian surut dan digantikan oleh Kerajaan Lombok. Pada abad ke-9 hingga abad ke-11 berdiri Kerajaan Sasak yang kemudian dikalahkan oleh salah satu kerajaan yang berasal dari Bali pada masa itu. Beberapa kerajaan lain yang pernah berdiri di pulau Lombok antara lain Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samarkaton dan Selaparang.

Kerajaan Selaparang sendiri muncul pada dua periode yakni pada abad ke-13 dan abad ke-16. Kerajaan Selaparang pertama adalah kerajaan Hindu dan kekuasaannya berakhir dengan kedatangan ekspedisi Kerajaan Majapahit pada tahun 1357. Kerajaan Selaparang kedua adalah kerajaan Islam dan kekuasaannya berakhir pada tahun 1744 setelah ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Selaparang karena permasalahan dengan raja Selaparang. [2]. Pendudukan Bali ini memunculkan pengaruh kultur Bali yang kuat di sisi barat Lombok, seperti pada tarian serta peninggalan bangunan (misalnya Istana Cakranegara di Ampenan). Baru pada tahun 1894 Lombok terbebas dari pengaruh Karangasem akibat campur tangan Batavia (Hindia Belanda) yang masuk karena pemberontakan orang Sasak mengundang mereka datang. Namun demikian, Lombok kemudian berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda secara langsung.

Masuknya Jepang (1942) membuat otomatis Lombok berada di bawah kendali pemerintah pendudukan Jepang wilayah timur. Seusai Perang Dunia II Lombok sempat berada di bawah Negara Indonesia Timur, sebelum kemudian pada tahun 1950 bergabung dengan Republik Indonesia

PARIWISATA

Cidomo, alat transportasi tradisional di pulau lombok, sarana transportasi utama di daerah pedesaan

Lombok dalam banyak hal mirip dengan Bali, dan pada dasawarsa tahun 1990-an mulai dikenal wisatawan mancanegara. Namun dengan munculnya krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1997 dan krisis-krisis lain yang menyertainya, potensi pariwisata agak terlantarkan. Lalu pada awal tahun 2000 terjadi kerusuhan antar-etnis dan antar agama di seluruh Lombok sehingga terjadi pengungsian besar-besaran kaum minoritas. Mereka terutama mengungsi ke pulau Bali. Namun selang beberapa lama kemudian situasi sudah menjadi kondusif dan mereka sudah kembali. Pada tahun 2007 sektor pariwisata adalah satu-satunya sektor di Lombok yang berkembang.

Kamis, 15 April 2010

Bukit Jambul Karangasem Bali




SEJARAH :

Nama Bukit Jambul pertama kali diberikan pada saat invasi Belanda ke Indonesia oleh seorang wisatawan yang melihat sebuah bukit tinggi berdiri di sebelah selatan jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Klungkung dan Besakih. Di puncak bukit terdapat sebuah pura yang disebut Pura Pucak Sari yang dikelilingi oleh pepohonan besar. Sementara, di bawah kompleks pura terdapat panorama persawahan yang memukau. Ini membuat pepohonan terlihat seperti jambul.

LOKASI :

Bukit Jambul terletak di desa tradisional Pesaban, Desa Nongan, Kecamatan Rendang. Bukit Jambul terletak 8 km dari Kabupaten Klungkung, 51 km dari Denpasar atau 15 km dari Pura Besakih.

FASILITAS :

Di objek wisata ini banyak terdapat warung dan restoran. Tempat parkir yang luas juga tersedia.

DESKRIPSI :

Bukit Jambul dikenal sebagai tujuan wisata yang mengagumkan karena kombinasi harmonis antara perbukitan, persawahan, lembah, dan panorama laut yang indah. Dari ketinggian bukit kita bisa menyaksikan keindahan alam di bawahnya.

Rabu, 31 Maret 2010

Pura Besakih Karangasem






Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Di Pura Basukian, di areal inilah pertama kalinya tempat diterimanya wahyu Tuhan oleh Hyang Rsi Markendya, cikal bakal Agama Hindu Dharma sekarang di Bali, sebagai pusatnya. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya dan merupakan pusat dan semua pura yang ada di komplek Pura Besakih. Di Pura Penataran Agung terdapat 3 arca atau candi utama simbol stana dari sifat Tuhan Tri Murti, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa yang merupakan perlambang Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara dan Dewa Pelebur/Reinkarnasi.

>>>>> FILOSOFI <<<<<

Keberadaan fisik bangunan Pura Besakih, tidak sekedar menjadi tempat bersemayamnya Tuhan, menurut kepercayaan Agama Hindu Dharma, yang terbesar di pulau Bali, namun di dalamnya memiliki keterkaitan latar belakang dengan makna Gunung Agung. Sebuah gunung tertinggi di pulau Bali yang dipercaya sebagai pusat Pemerintahan Alam Arwah, Alam Para Dewata, yang menjadi utusan Tuhan untuk wilayah pulau Bali dan sekitar. Sehingga tepatlah kalau di lereng Barat Daya Gunung Agung dibuat bangunan untuk kesucian umat manusia, Pura Besakih yang bermakna filosofis.




Makna filosofis yang terkadung di Pura Besakih dalam perkembangannya mengandung unsur-unsur kebudayaan yang meliputi:

1. Sistem pengetahuan,
2. Peralatan hidup dan teknologi,
3. Organisasi sosial kemasyarakatan,
4. Mata pencaharian hidup,
5. Sistem bahasa,
6. Religi dan upacara, dan
7. Kesenian.

Ketujuh unsur kebudayaan itu diwujudkan dalam wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud budaya material. Hal ini sudah muncul baik pada masa pra-Hindu maupun masa Hindu yang sudah mengalami perkembangan melalui tahap mitis, tahap ontologi dan tahap fungsional.

>>>>> OBJEK PENELITIAN <<<<<

Pura Besakih sebagai objek penelitian berkaitan dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang berada di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali.

Berdasar sebuah penelitian, bangunan fisik Pura Besakih telah mengalami perkembangan dari kebudayaan pra-hindu dengan bukti peninggalan menhir, punden berundak-undak, arca, yang berkembang menjadi bangunan berupa meru, pelinggih, gedong, maupun padmasana sebagai hasil kebudayaan masa Hindu.

Latar belakang keberadaan bangunan fisik Pura Besakih di lereng Gunung Agung adalah sebagai tempat ibadah untuk menyembah Dewa yang dikonsepsikan gunung tersebut sebagai istana Dewa tertinggi.

Pada tahapan fungsional manusia Bali menemukan jati dirinya sebagai manusia homo religius dan mempunyai budaya yang bersifat sosial religius, bahwa kebudayaan yang menyangkut aktivitas kegiatan selalu dihubungkan dengan ajaran Agama Hindu.

Dalam budaya masyarakat Hindu Bali, ternyata makna Pura Besakih diidentifikasi sebagai bagian dari perkembangan budaya sosial masyarakat Bali dari mulai pra-Hindu yang banyak dipengaruhi oleh perubahan unsur-unsur budaya yang berkembang, sehingga mempengaruhi perubahan wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud budaya material. Perubahan tersebut berkaitan dengan ajaran Tattwa yang menyangkut tentang konsep ketuhanan, ajaran Tata-susila yang mengatur bagaimana umat Hindu dalam bertingka laku, dan ajaran Upacara merupakan pengaturan dalam melakukan aktivitas ritual persembahan dari umat kepada TuhanNya, sehingga ketiga ajaran tersebut merupakan satu kesatuan dalam ajaran Agama Hindu Dharma di Bali.